Galerij: Een kijkje in de indonesische cultuur, Galeri: Pandangan ke dalam budaya Indonesia
Welkom in onze galerij, waar we de rijke en diverse cultuur van Indonesië in beeld brengen. Bekijk speciale momenten van onze evenementen en laat u inspireren door de schoonheid en tradities. We hopen dat u een goede indruk krijgt van wat Cultuur Indonesië te bieden heeft.
Selamat datang di galeri kami, di mana kami menampilkan budaya Indonesia yang kaya dan beragam. Saksikan momen spesial dari acara kami dan dapatkan inspirasi dari keindahan dan tradisi. Kami harap Anda mendapatkan kesan yang baik tentang apa yang ditawarkan Culture Indonesia.
Betekenis van motieven van Batik. Arti motif Batik,
Geschreven door: Duhita Sasa Widyaningsih
Perempuan dan batik ....Perempuan jawa dr dulu hg saat ini tdk bisa lepas dg batik... Adapun Jenis batik Jawa yang memiliki makna dan arti yang berbeda-beda contoh: - *Batik Parang*: Melambangkan kekuatan dan keberanian- *Batik Kawung*: Melambangkan kesuburan dan kemakmuran- *Batik Sidomukti*: Melambangkan kebahagiaan dan kemakmuran- *Batik Sido Luhur*: Melambangkan kesucian dan kebajikan- *Batik Mega Mendung*: Melambangkan kekuatan dan keagungan alam. Setiap motif batik memiliki cerita dan makna yang unik, dan sering kali terkait dengan nilai-nilai budaya dan filosofi Jawa.
Vrouwen en batik.... Een Javaanse vrouw uit het verleden kan momenteel niet wegkomen met batik... De soorten Javaanse batik die verschillende betekenissen en betekenissen hebben, zijn: - *Batik Parang*: Symboliseert kracht en moed - *Batik Kawung*: Symboliseert vruchtbaarheid en voorspoed - *Sidomukti Batik*: Symboliseert geluk en voorspoed - *Sido Luhur Batik*: Symboliseert zuiverheid en deugd - *Mega Mendung Batik*: Symboliseert de kracht en majesteit van de natuur Elk batikmotief heeft een uniek verhaal en betekenis, en is vaak verbonden met Javaanse culturele waarden en filosofieën.
Warna Penulis: Cak Ries
Wungu atua Ungu symbol kebangkitan Wungu dalam bahasa Jawa artinya bangun (bangkit).
Budaya kita bangkit kembali.
Kleur: Geschreven door Cak Ries Wungu atua Ungu is een symbool van het ontwaken van Wungu in het Javaans, wat ontwaken (ontwaken) betekent. Onze cultuur is in opkomst.
Nguwongke uwong" adalah pepatah dan filosofi Jawa yang berarti "memanusiakan manusia" atau memperlakukan sesama manusia dengan penghargaan dan martabat sesuai peran dan hakikatnya sebagai manusia, bukan sebagai makhluk lain atau objek. Ini adalah bentuk penghormatan terhadap hakikat kemanusiaan, yang meliputi menghargai perasaan, pikiran, dan penerimaan terhadap individu tanpa menghakimi.
Makna dan Aplikasi "Nguwongke Uwong"
Menghargai Manusia: Inti dari filosofi ini adalah menghargai manusia apa adanya, termasuk perasaan dan pikirannya.
Tanpa Menghakimi: "Nguwongke uwong" berarti menerima dan menghargai orang lain tanpa menghakimi perilaku mereka, memandang mereka sebagai sesama manusia.
Membuat Nyaman: Seseorang akan merasa nyaman jika dihargai (diuwongke).
Memperluas Makna: Konsep ini kadang juga digabungkan dengan frasa "gawe legane uwong" yang berarti "membuat hati orang lain lega" atau "memberi kelegaan kepada orang lain".
Penghormatan terhadap Tuhan: Menghargai manusia juga merupakan bentuk penghormatan kepada Tuhan sebagai pencipta.
Konteks dan Filosofi Jawa
Ajaran Moral: "Nguwongke uwong" adalah salah satu ajaran moral dan pitutur (nasihat) luhur dari masyarakat Jawa yang menekankan hubungan baik antarmanusia.
Pilar Kehidupan: Ini adalah salah satu prinsip dasar dalam filosofi hidup orang Jawa yang dipegang teguh untuk menjaga keharmonisan sosial.
"Nguwongke uwong" is een Javaans spreekwoord en filosofie die betekent "mensen humaniseren" of medemensen behandelen met respect en waardigheid volgens hun rol en essentie als mensen, niet als andere wezens of objecten. Het is een vorm van respect voor de essentie van de mensheid, wat het respecteren van gevoelens, gedachten en acceptatie van individuen zonder oordeel omvat. Betekenis en toepassing van "Mensen Onderwijzen" Respect voor mensen: De essentie van deze filosofie is om mensen te waarderen zoals ze zijn, inclusief hun gevoelens en gedachten. Zonder Oordeel: "Nguwongke uwong" betekent anderen accepteren en respecteren zonder hun gedrag te beoordelen, hen als medemensen te zien. Maak het comfortabel: Iemand voelt zich op zijn gemak als hij gewaardeerd wordt (gevraagd wordt). Betekenis uitbreiden: Dit concept wordt soms ook gecombineerd met de uitdrukking "gawe legane uwong", wat betekent "de harten van anderen gelukkig maken" of "anderen verlichting geven". Eerbied voor God: Mensen waarderen is ook een vorm van respect voor God als schepper. Javaanse context en filosofie Morele leerstellingen: "Nguwongke uwong" is een van de morele leerstellingen en nobele pitutur (advies) van het Javaanse volk die de nadruk legt op goede relaties tussen mensen. Pijlers van het Leven: Dit is een van de basisprincipes in de Javaanse levensfilosofie die wordt gehandhaafd om sociale harmonie te behouden.
Mengenakan warisan leluhur dari Tanah Sabu Raijua. Keindahan tenun ikat bukan sekadar kain, tapi untaian doa dan identitas yang akan selalu kami jaga. Bangga menjadi bagian dari keragaman NTT."
"Terbalut dalam simpul tradisi Sabu Raijua. Di setiap motif tenunnya, ada cerita tentang ketangguhan dan keanggunan. Budaya adalah cermin jiwa bangsa." #SabuRaijua #NTT #EastNusaTenggara #BudayaNTT
Provinsi Indonesia terdiri dari lebih dari 500 pulau di Kepulauan Sunda kecil, termasuk Flores.
Draagt voorouderlijke afkomst uit het land van Sabu Raijua. De schoonheid van ikat-weven is niet alleen een stof, maar een draad van gebed en identiteit die we altijd zullen behouden. Trots om deel uit te maken van de diversiteit van NTT." "Verbonden in de knoop van de Sabu Raijua-traditie. In elk van de weefmotieven schuilt een verhaal van taaiheid en elegantie. Cultuur is een spiegel van de ziel van de natie." #SabuRaijua #NTT #EastNusaTenggara #BudayaNTT Nusa Tenggara Timur.
Indonesische provincie bestaande uit meer dan 500 eilanden in de kleine Sunda-eilanden , waaronder Flores.
Susi Enita
Geschreven door: Susi Enita
Menjunjung tinggi warisan leluhur melalui mahakarya seni yang melekat di raga
Kebanggaan akan identitas dan budaya Dayak yang takkan lekang oleh waktu.
Di setiap manik ada doa, di setiap ukiran ada cerita. Bangga menjadi bagian dari kekayaan budaya Nusantara.
Sejauh mana pun kaki melangkah, akar budaya akan selalu menjadi tempat pulang. Pesona magis dari Borneo. Seperti burung Enggang yang gagah, biarlah budaya kita terus terbang tinggi melintasi zaman.
Het in stand houden van het voorouderlijk erfgoed door meesterwerken van kunst die inherent is aan het lichaam Trots op Dayak-identiteit en cultuur die niet tijdloos zal zijn. In elke kraal zit een gebed, in elke gravure is er een verhaal. Trots om deel uit te maken van de culturele rijkdom van de archipel. Hoe ver de voet ook gaat, de culturele wortels zullen altijd een plek zijn om naar huis te gaan. De magische charme van Borneo. Zoals de charmante neushoornvogel, laat onze cultuur door de eeuwen heen hoog blijven vliegen.
Salah satu kebanggan aktif dlm WBI adalah kepakemannya dlm memegang budaya Indonesia, diantaranya ber sanggul lengkap dg kebaya wastra nusantara dan selop (smntr kebanyak org skrg pakai sneaker, yg gak banget ya menurut saya)...
Baik saat bersama dg WBI atau dlm keseharian saya sll memperlihatkan mahkota (tdk pernah pakai hijab sama sekali, meskipun KTP sy tertulis Islam) ...
Saya termasuk wanita yg melawan keras derasnya upaya2 untk menghijabi mahkota wanita Indonesia dg penutup kepala...
Krn itu bukan budaya bangsa Indonesia...
Itu budaya Arab... Jd selayaknya wanita Indonesia jangan sok nggarap ngarap an... Menjadi Arab pesek... 😁😄
Smg cita cita sy melihat mewujudkan ribuan wanita bersanggul ataupun pencanangan adanya hari sanggul Indonesia bisa diwujudkan di bumi Nusantara ya..
Een van de trotsste dingen aan WBI is de toewijding aan de Indonesische cultuur, waaronder het dragen van een complete Sanggul met een archipel-kebaya en sandalen (heel erg veel mensen dragen sneakers, wat naar mijn mening niet echt zo is)... Of ik nu samen met WBI ben of in mijn dagelijks leven, ik toon de kroon (ik draag nooit een hijab, ook al is mijn identiteitskaart islamitisch geschreven) ... Ik ben een van de vrouwen die zich krachtig verzetten tegen de pogingen om de kroon van Indonesische vrouwen met een hoofdbedekking te dragen... Omdat het niet de cultuur van de Indonesische natie is... Het is Arabische cultuur... En als gevolg daarvan mogen vrouwen in Bangladesh geen make-up dragen... Arabisch pesek zijn... 😁😄 SMG, mijn droom is om de realisatie van duizenden vrouwen te zien om een Indonesische dag die in de archipel kan worden gerealiseerd.
Dibalik Wanita Penjaga Mahkota
Di balik setiap Sanggul yang tertata rapi, terselip bukan hanya jepit rambut, hiasan rambut ataupun semir pewarna rambut. Tetapi ada cerita tentang warisan leluhur yang berdenyut, tangan-tangan yang sabar serta jiwa-jiwa yang bertugas menjadi jembatan antara masa lalu dengan masa kini. Mereka adalah Pelestari Sanggul, sang pengrajin mahkota tradisi, penjaga ingatan kolektif yang dirajut dari helai demi helai rambut.
Di tengah laju zaman, masuknya budaya asing, yang kerap menggoda untuk melupakan, wanita pelestari Sanggul memilih untuk mengingat dan dengan cermat, menjaga setiap teknik, simbol, dan filosofi yang melekat pada setiap bentuk Sanggul. Bagi wanita pelestari Sanggul, merakit Sanggul bukan hanya sekedar menata rambut, tetapi upaya merangkai identitas, memulihkan kebanggaan, dan menghidupkan kembali narasi budaya yang hampir tergerus.
Mari kita menyelami dunia wanita pelestari Sanggul, menyaksikan bagaimana dedikasi dan kecintaan mengubah sederetan Sanggul dari sekadar hiasan kepala menjadi mahkota bermakna, yang terus bersuara menyampaikan kisah tentang dari mana kita berasal, dan untuk siapa kita berdiri tegak hari ini disini di bumi Nusantara.
Sambutlah para penjaga budaya yang memastikan bahwa warisan nenek moyang kita tidak hanya menjadi pajangan di museum, tetapi hidup dan bernapas di kepala generasi sekarang.
Menjadi bagian dari komunitas Wanita Pelestari Sanggul Indonesia (WPSI) bukan hanyalah sekadar merias rambut sebagai Mahkota saja atau berlenggak lenggok bersanding dengan kebaya dan wastra Nusantara, tetapi yang terpenting adalah terlibat dalam menjalankan misi melestarikan budaya di bumi Nusantara yang mulia ini.
Melestarikan Sanggul Indonesia merupakan salah satu Penjaga Warisan Nusantara yang Hidup, dan kitapun turut serta dalam menjaga kearifan lokal bangsa Indonesia dari kepunahan di era globalisasi ini. Seperti kita ketahui bahwa pada setiap Sanggul (konde/Sanggul Jawa, Sanggul Bali, Sanggul Sunda, dan puluhan Sanggul lain yang ada di wilayah lndonesia) menyimpan filosofi, sejarah dan identitas suku bangsa Indonesia. Selain hal tersebut, juga dapat mendorong kebangkitan identitas & kemandirian Budaya Indonesia dari pengaruh gelombang budaya pop global. Sanggul adalah simbol keteguhan untuk tidak kehilangan jati diri bangsa.
Melestarikan Sanggul adalah bagian dari memberdayakan Perempuan Indonesia dari berbagai sisi. Diantaranya dapat menciptakan lapangan kerja untuk para pengrajin, penjual bahan Sanggul dan penata Sanggul yang berkontribusi menggerakkan roda perekonomian rakyat Indonesia. Melestarikan Sanggul juga bagian dalam mengajarkan anak-anak kita, para generasi muda mengenai makna di balik setiap bentuk Sanggul dan tusuk konde, cenduk mentul dan bunga-bunga cantik sebagai penghias Sanggul.
Dengan mengenakan Sanggul akan membuat wanita terlihat cantik, anggun, agung dan berwibawa, juga menampilkan sisi kekuatan seorang perempuan Indonesia tanpa pengaruh budaya bangsa lain. Setiap Sanggul yang dibentuk merupakan pernyataan bagi kaum wanita yang pantang tergerus oleh kemajuan jaman.
Wanita sebagai pelestari budaya menjadi inovator yang menjembatani antara tradisi warisan leluhur bangsa Indonesia dan modernitas jaman dari waktu ke waktu yang tidak tergerus oleh perubahan jaman. Para pelestari Sanggul tidak hanya meniru Sanggul-sanggul masa lalu, tetapi juga bisa berinovasi menyesuaikan bentuk Sanggul agar bisa berdampingan dengan gaya hidup kontemporer, baik untuk acara formal hingga pernikahan maupun untuk acara santai sekedar berkumpul dengan teman-teman. Moment ini bisa digunakan untuk membuktikan bahwa tradisi leluhur Indonesia bisa menjadi relevan dan trendi dimasa kini.
Dengan mencintai dan mempopulerkan kembali Sanggul, kita dapat menunjukkan bahwa budaya Indonesia layak bersaing di kancah panggung fashion dunia, hal ini sekaligus berdampak dalam melawan masifnya budaya asing yang masuk ke Indonesia dan dampak negatif dari globalisasi.
Teknik dalam menata Sanggul yang rumit, dengan pemilihan bahan alam seperti sisir kayu, bunga setaman dan makna di balik setiap bentuknya adalah ilmu turun-temurun dari para leluhur yang risiko hilangnya sangatlah besar dan rentan. Oleh karenanya wanita pelestari Sanggul adalah merupakan pustaka berjalan yang menjaga pengetahuan tentang Sanggul agar tidak punah dan tetap hidup di bumi Pertiwi.
Menjadi pelestari Sanggul merupakan satu kebanggaan secara emosional dan spiritual yang menjadi saksi dan pelaku sejarah Indonesia. Setiap kali menata Sanggul merupakan makna yang menyambung kembali rantai terputus antara nenek moyang leluhur kita dengan generasi masa depan bangsa Indonesia. Kebanggaan ini merupakan cerminan dari kesadaran bahwa kita bukan hanya sekadar menata rambut sebagai mahkota yang indah, tetapi juga sebagai aktivis budaya, pendidik bangsa, dan guardian of heritage Indonesia.
Dari setiap Sanggul yang dihadirkan merupakan manifestasi dari kecerdasan, estetika, dan ketangguhan perempuan Indonesia selama berabad-abad.
Oleh karenanya, wahai wanita Indonesia teruslah berkarya, dedikasikan diri kita sebagai salah satu benteng terakhir yang menjaga keagungan identitas bangsa Indonesia di tengah derasnya perubahan zaman dari masukannya budaya bangsa Asing yang bisa saja menggerus dan menghilangkan budaya asli wanita Indonesia.
Semoga suatu hari nanti tercapai cita-cita leluhurku untuk menghimpun ribuan wanita-wanita Indonesia bersanggul, berkebaya dan berkain Nusantara yang melakukan aktifitas budaya seni lainnya. Dengan menampilkan secara kolosal tarian tradisional seperti tari Gandrung dari Banyuwangi atau Gambyong dari Surakarta, yang membentang sepanjang jalan utama Ibu Kota Indonesia, antara lain di Jalan Sudirman dan Jalan Thamrin Jakarta.
Percayalah bahwa melestarikan Sanggul adalah kebanggaan yang patut disematkan di dada kita...🇲🇨
Semoga semesta alam selalu menyertai perjuangan kita…
Achter de Kroonwacht Achter elke netjes gerangschikte Sanggul zitten niet alleen haarspelden, haarornamenten of haarverfnagellak. Maar er zijn verhalen over pulserende voorouderlijke erfenissen, geduldige handen en zielen die dienen als een brug tussen verleden en heden. Zij zijn de natuurbeschermers van het Sanggul, de ambachtslieden van de traditionele kroon, de bewakers van het collectieve geheugen dat uit draad voor draad is geweven. Te midden van het tempo van de tijd, de komst van buitenlandse culturen, wat vaak verleidelijk is om te vergeten, kiezen vrouwen die het Sanggul bewaren ervoor om elke techniek, elk symbool en elke filosofie die aan elke vorm van het Sanggul verbonden zijn, zorgvuldig te onthouden en zorgvuldig te verzorgen. Voor vrouwen die Bungul bewaren, gaat het samenstellen van Buns niet alleen om het stylen van haar, maar om een poging om identiteit te creëren, trots te herstellen en culturele verhalen die bijna zijn uitgehold, nieuw leven in te blazen. Laten we duiken in de wereld van vrouwen die de Sanggul beschermen, en zien hoe toewijding en liefde een reeks Sanggul transformeerden van gewone hoofdtooien tot betekenisvolle kronen, die het verhaal blijven vertellen van waar we vandaan komen en voor wie we vandaag hier op de archipel staan. Zeg hallo tegen de culturele beheerders die ervoor zorgen dat het erfgoed van onze voorouders niet alleen in musea wordt tentoongesteld, maar ook leeft en ademt in de hoofden van de huidige generatie. Deel uitmaken van de Indonesische Sanggul Preservation Women (WPSI) gemeenschap betekent niet alleen make-up als kroon of naast kebaya en wastra van de archipel liggen, maar het belangrijkste is betrokken zijn bij het uitvoeren van de missie om cultuur in deze nobele archipel te behouden. Het behoud van de Indonesische Bungul is een van de Bewakers van het Levende Erfgoed van de archipel, en wij dragen ook bij aan het behoud van de lokale wijsheid van de Indonesische natie tegen uitsterven in dit tijdperk van globalisering. Zoals we weten bevat elke Bungul (konde/Sanggul Javaans, Balinese Bun, Sundanese bun en tientallen andere Sangguls op Indonesisch grondgebied) de filosofie, geschiedenis en identiteit van het Indonesische volk. Daarnaast kan het ook de heropleving van de Indonesische culturele identiteit en onafhankelijkheid van de invloed van wereldwijde popcultuurgolven stimuleren. De Sanggul is een symbool van vastberadenheid om de identiteit van de natie niet te verliezen. Het behouden van de Sanggul maakt deel uit van het versterken van Indonesische vrouwen van verschillende kanten. Onder hen kan het banen creëren voor ambachtslieden, verkopers van Sanggul materialen en Sanggulstylisten die bijdragen aan het voortstuwen van de economie van het Indonesische volk. Het conserveren van de Sanggul maakt ook deel uit van het leren van onze kinderen, de jongere generatie, over de betekenis achter elke vorm van Sanggul en conde-spiesen, mentul spiesen en prachtige bloemen als decoratie voor Sangguls. Het dragen van een Sanggul laat vrouwen er mooi, elegant, majestueus en gezaghebbend uitzien, en toont de kracht van een Indonesische vrouw zonder invloed van de cultuur van het land
Javaanse huwelijksceremonie van Ibu Yustina NGesti
Upacara pernikahan Jawa, di Ibu Yustina NGesti.
Yustina Ngesti
Wanita karisma Indonesia 2022 di Hoofdorp Nederland