Geschiedenis (Sejarah)

Dit is waar onze reis begint. Maak kennis met onze vereniging en wat we doen. Wij staan voor kwaliteit en goede service. Sluit je aan, terwijl we samen groeien en succesvol worden. We zijn blij dat je hier bent om deel uit te maken van ons verhaal.

Di sinilah perjalanan kita dimulai, tepati mari kita kenali asiasi kami dan apa yang kami lakukan. Kami menjunjung tinggi kualitas dan pelayanan yang baik. Bergabunglah bersama kami saat kami tumbuh dan sukses bersama Kami senang Anda berada di sini untuk menjadi bagian dari kisah kami.

Inilah contoh aksara daerah yg ada di Nusantara, kurang kah aksara mu ,untuk di jaga ,di lestarikan dan di wajibkan dalm penulisan nama tempat umum (rumah skit dll) di daerah mana tempat itu di bangun , ayoo saatnya gaungkan penggunaan aksara daeah , sehingga harus bangga dgn aksara asing yg di bungkus atas nama tuhan dan agama?

Dit is het voorbeeld van het alfabet in de archipel, van Indonesia. 

50 Stammen van Indonesië

50 Suku Indonesia

Di bawah ini adalah jumlah suku yang terdapat di pulau-pulau Indonesia dari Sabang hingga Merauke.

Hier onder het aantal volksstammen die in Indonesische eilanden voorkomen van Sabang tot Merauke.

1. Jawa

2. Sunda

3.Malayu

4. Batak

5. Minangkabau

6. Aceh

7. Dayak

8. Sanjar

9. Bugis

10.Makassar

11. Mandar

12. Toraja

13. Minahasa

14. Gorontalo

15. Bali

16. Sasak

17. Mbojo(Bima)

18. Sumba

19. Flores

20. Timor

21. Asmat

22. Dani

23. Biak

24. Betawi

25.Madura

26. Lampung

27. Rejang

28. Baduy

29. Osing

30. Tidung

31. Karo

32. Mentawai

33. Sumbawa

34. Simeulue

35. Seram

36. Kei

37. Ternate

38. Tidore

39. Enggano

40. Wolio (Buton) 

41. Tolakli

42. Pamona

43. Bajo

44. Alas

45. Kutai

46. Gavo

47. Mappi

48. Rote

49. Kupang

50. Atoni

20 Bijnamen van de beroemste steden in Indonesië

20 Julukan kota paling terkenal di Indonesia.

1. Jakarta - Kota Metropolitan

2. Bandung - Kota Kembang

3. Surabaya - Kota Pahlawan

4. Yogyakarta - Kota Pelajar

5. Semarang - Kota Lumpia

6. Malang - Kota Bunga/Apel

7. Medan - Kota Melayu Deli

8. Makassar - Kota Daeng

9. Palembang - Kota Pempek

10. Balikpapan - Kota Minyak

11. Benjarmasin - Kota Seribu Sungai

12. Denpasar - Kota Dewata

13. Manado - Kota Tinutuan

14. Pontianak - Kota Katulistiwa

15. Pekanbaru - Kota Bertuah

16. Padang -  Kota Rendang

17. Solo(Surakarta) - Kota Budaya

18. Magelang - Kota Sejuta Bunga

19. Bogor - Kota Hujan

20. Cirebon - Kota Udang

Men gelooft dat blangkon zo oud is als het Javaanse schrift en geïnspireerd is op het legendarische verhaal van Aji Saka. In het verhaal versloeg Aji Saka Dewata Cengkar, een reus die het land Java bezat, door een gigantisch stuk hoofdtooi te verspreiden dat het hele land Java kon bedekken.  Aji Saka werd ook beschouwd als de grondlegger van de Javaanse kalender.

Diyakini bahwa blangkon setua aksara Jawa dan terinspirasi oleh kisah legendaris Aji Saka. Dalam cerita tersebut, Aji Saka mengalahkan Dewata Cengkar, seorang raksasa yang memiliki tanah Jawa, dengan membagikan sepotong hiasan kepala raksasa yang bisa menutupi seluruh tanah Jawa.  Aji Saka juga dianggap sebagai pendiri kalender Jawa.

Blankon (Wikipedia)

Een blangkon (Javaans: of belangkon (in het Indonesisch) is een traditioneel Javaanse hoofddeksel dat door mannen wordt gedragen en gemaakt is van batikstof.  Er zijn vier soorten blangkons, te onderscheiden door de vormen en regionale Javaanse oorsprong: NgayogyakartaSurakartaKedu en Banyumasan.

 

Blankon (Wikipedia)

Blangkon (bahasa Jawa: atau belangkon) adalah tutup kepala tradisional Jawa yang dikenakan oleh pria dan terbuat dari kain batik.  Ada empat jenis blangkon, yang dibedakan berdasarkan bentuknya dan asal daerah Jawa: Ngayogyakarta, Surakarta, Kedu, dan Banyumasan.

Klono Sukmo

Belajar untuk tidak dihormati bukan berarti merendahkan diri secara berlebihan. Justru ini melatih kita agar tetap rendah hati, kuat, dan stabil. Kita menjadi pribadi yang tidak mudah terombang ambing oleh komentar orang lain. Hanya orang yang hatinya lapang yang mampu melangkah tanpa membutuhkan sorotan. Dan dari kelapangan itulah lahir kebijaksanaan.

Klono Sukmo

Leren om niet gerespecteerd te worden betekent niet dat je te bescheiden bent. In plaats daarvan traint het ons om nederig, sterk en stabiel te blijven. We worden individuen die zich niet gemakkelijk laten beïnvloeden door de opmerkingen van anderen. Alleen mensen met een open hart kunnen stappen zonder in de schijnwerpers te staan. En uit die ruimheid wordt wijsheid geboren.

Saat sadar dalam nalar berfikir ..

Mempertahan n melestarikan budaya leluhur kita sendiri Nusantara MERDEKA

Wanneer bewust in reden van denken ....

De cultuur van onze eigen voorouderlijk ARCHIPEL.

MERDEKA verdedigen en behouden

Penjelasan :Penghayat Kepercayaan Yaitu Bentuk Kesadaran Diri Sebagai Manusia Yang Merdeka yang sadar akan "HIDUP" dirinya Tanpa Batasan-Batasan aturan apapun sesuai asal suku bangsa masing - masing dengan tata bahasa, tata susila suku bangsa kita sendiri.

Penghayat Tidak terikat dengan apapun kecuali untuk dirinya sendiri atas dasar kamanusiaan. Dengan kata lain ialah menjadi jati diri sendiri sebagai manusia yang hidup.

Sehingga setiap hal yang dilakukan maupun yang akan dilakukan ialah semata - mata untuk menempatkan diri pada posisi yang merdeka namun selamat yang berkemanusiaan.

Bebas melakukan apapun namun tidak membebaskan diri dalam setiap hal terutama hal - hal yang menyangkut keselamatan diri dan orang atau makhluk hidup disekitarnya

Pada intinya ialah menjadi diri sendiri yang tiada ikatan tetap/mati atas segala hal dan segalanya dilakukan atas dasar hidup diri yang ber-prikemanusiaan bukan karena suatu hal baik orang lain maupun ancaman suatu golongan.

Penghayat Kepercayaan memiliki dasar hidup yang tak tersurat (Kitab Hidup) yaitu "Keselamatan Berdasar Budi Pekerti Luhur" yang terbungkus dalam suatu sifat diri yang "Welaa Asih" terhadap sesama hidup sebagai wujud "berbakti" terhadap Tuhan Yang Maha Esa.

Pengahayat bebas melakukan apapun selama dirinya bersedia , namun biasanya tidak akan membebaskan dirinya alias tisak semena - mena terhadap hidupnya.

Karena penghayat paham sekali bahwa hidup ini adalah sebuah hukum sebab - akibat maka dia tidak akan semena - mena dalam bertindak baik terhadap diri maupun orang lain namun tetap merdeka dalam segala kegiatan apapun.

Gelovigen zijn een vorm van zelfbewustzijn als een vrij mens die zich bewust is van het "LEVEN" van zichzelf zonder enige beperkingen volgens de oorsprong van elke natie met de grammatica en moraal van onze eigen natie. De gelovige is op humanitaire gronden nergens aan gebonden behalve aan zichzelf. Met andere woorden, het is om iemands identiteit als levend mens te zijn. Zodat alles wat gedaan wordt of zal worden gedaan uitsluitend is om jezelf in een onafhankelijke maar veilige positie te brengen die menselijk is. Vrijheid om alles te doen behalve niet vrij in elk opzicht, vooral als het gaat om de veiligheid van henzelf en mensen of levende wezens om hen heen In wezen is het jezelf zijn zonder vaste of dode banden met alles en alles gebeurt op basis van een menselijk leven, niet vanwege iets, noch door anderen noch door de dreiging van een groep. Gelovigen hebben een onuitsprekelijke basis van het leven (het Boek des Levens), namelijk "Redding gebaseerd op Edele Ethiek", dat verpakt is in een eigenschap die "Welaa Asih" is tegenover medemensen als een vorm van "toewijding" aan God Almachtig. Gelovigen zijn vrij om te doen wat ze bereid zijn te doen, maar meestal zullen ze zichzelf niet bevrijden, oftewel niet alleen hun leven bevrijden. Omdat de gelovige heel goed begrijpt dat dit leven een wet van oorzaak en gevolg is, zal hij niet onverschillig zijn in het handelen tegenover zichzelf en anderen, maar blijft hij onafhankelijk in alle activiteiten.

Manunggaling Kawula Gusti adalah konsep spiritual Jawa yang berarti "bersatunya hamba (kawula) dengan Tuan (Gusti/Tuhan)", menggambarkan pengalaman mistik penyatuan diri dengan Ilahi, di mana ego terkikis dan kehendak individu selaras dengan kehendak Tuhan, sering dikaitkan dengan Syekh Siti Jenar, namun memiliki interpretasi berbeda dalam konteks Kejawen, mistik, dan teologi Islam (terutama antara wahdatul wujud yang kontroversial dan wahdatus syuhud yang lebih diterima). Ini adalah puncak spiritualitas Jawa yang melibatkan keselarasan total, meninggalkan nafsu duniawi untuk mencapai kesempurnaan batin.

Makna dan Filosofi

Secara harfiah: "Manunggal" (menyatu) + "Kawula" (hamba, aku) + "Gusti" (Tuhan, Tuan).

Inti Ajaran: Bukan peleburan fisik, melainkan penyelarasan spiritual total, di mana manusia menjadi cerminan sifat Tuhan dan tindakannya mencerminkan kehendak-Nya.

Tujuan: Mencapai kesempurnaan hidup (Insan Kamil) melalui pemahaman bahwa Tuhan ada dalam segala hal dan manusia adalah mikrokosmos (jagad cilik) yang menyatu dengan makrokosmos (jagad gedhe).

Tokoh Terkait & Ajaran

Syekh Siti Jenar: Tokoh mistik Jawa yang paling terkenal mengajarkan konsep ini, seringkali kontroversial karena dianggap mengedepankan hakikat (esensi) di atas syariat, meskipun ia menekankan penghambaan setinggi-tingginya.

Serat Dewa Ruci: Kisah spiritual Jawa yang menjadi landasan pemahaman konsep ini, menggambarkan pertemuan Bima dengan Dewa Ruci sebagai pencapaian kesempurnaan hidup.

Interpretasi & Kontroversi

Dalam Islam: Dipandang berbeda-beda. Ada yang menganggapnya hulul (Tuhan menempati makhluk) yang syirik (sesat), sementara yang lain memahaminya sebagai wahdatus syuhud (melihat kebesaran Allah dalam ciptaan-Nya), yang lebih sesuai dengan akidah Islam.

 

Manunggaling Kawula Gusti is een Javaans spiritueel concept dat "de vereniging van dienaar (kawula) met Heer (Gusti/God)" betekent, en beschrijft de mystieke ervaring van zelf-vereniging met het Goddelijke, waarbij het ego wordt uitgehold en de wil van het individu in harmonie is met de wil van God, vaak geassocieerd met Sheikh Siti Jenar, maar met verschillende interpretaties in de context van Javaans, mystiek en islamitische theologie (vooral tussen de controversiële wahdatul-vorm en de meer geaccepteerde wahdatus syuhud). Dit is het hoogtepunt van Javaanse spiritualiteit die totale harmonie inhoudt, waarbij wereldse verlangens worden opgegeven om innerlijke perfectie te bereiken. Betekenis en filosofie Letterlijk: "Manunggal" (verenigd) + "Kawaku" (dienaar, ik) + "Gusti" (Heer, Heer). Kernleer: Geen fysieke fusie, maar totale spirituele afstemming, waarbij de mens een weerspiegeling wordt van Gods natuur en zijn handelingen Zijn wil weerspiegelen. Doel: De volmaaktheid van het leven bereiken (Insan Kamil) door het begrip dat God in alles bestaat en dat de mens een microkosmos (kleine wereld) is dat één is met het macrokosmos (grote wereld). Gerelateerde figuren en leerstellingen Sheikh Siti Jenar: De beroemdste Javaanse mysticus onderwees dit concept, vaak controversieel omdat het werd gezien als een prioriteit voor essentie boven de sharia, hoewel hij het hoogste niveau van dienstbaarheid benadrukte. Serat Dewa Ruci: Het Javaanse spirituele verhaal dat de basis vormt voor het begrijpen van dit concept, beschrijft Bima's ontmoeting met Dewa Ruci als het bereiken van perfectie in het leven. Interpretatie & Controverse In de islam: Anders bekeken. Sommigen beschouwen hulul (God bezet schepselen) als shirk (afwijkend), terwijl anderen het begrijpen als wahdatus syuhud (het zien van de grootheid van Allah in Zijn schepping), wat meer in overeenstemming is met de islamitische geloofsbelijdenis.

Kata "lu" (kamu) dan "gua" (saya) berasal dari dialek bahasa Tionghoa, khususnya Hokkien (Minnan/Fujian), yang diserap ke dalam bahasa gaul Jakarta dan Indonesia karena interaksi dengan pedagang Tionghoa di Batavia, bukan bahasa Betawi asli, dan digunakan sebagai kata ganti orang kedua dan pertama yang informal. Asal-usul Kata: "Lu": Serapan dari karakter Tionghoa ä½  (nǐ) yang dalam dialek Hokkien dilafalkan menjadi lu/leu/li, artinya "kamu" atau "Anda".

"Gua": Serapan dari karakter Tionghoa ꈑ (wĒ’) yang dalam dialek Hokkien dilafalkan menjadi gua/goa, artinya "saya" atau "aku". Proses Penyerapan: 

Migrasi Tionghoa: Banyak orang Tionghoa dari wilayah Fujian (Hokkien) berdagang dan menetap di Batavia (Jakarta) sejak lama. Interaksi Komunikasi: Masyarakat lokal Jakarta banyak mengadopsi sebutan "elu" dan "gua" untuk berkomunikasi dengan para pedagang Tionghoa.** Bahasa Gaul**: Seiring waktu, kata-kata ini menjadi bagian dari bahasa gaul anak Jakarta dan kemudian menyebar luas, menawarkan kesan lebih akrab dan santai dibandingkan "kamu-aku" atau "Anda-saya".

Konteks Penggunaan:

Kata "lu-gua" sangat umum dalam percakapan informal di kalangan anak muda dan warga perkotaan. Meskipun populer, penggunaannya tidak sopan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua atau dalam situasi formal. Jadi, meskipun sering dikaitkan dengan bahasa Betawi, "lu-gua" sebenarnya adalah warisan linguistik dari komunitas Tionghoa Hokkien yang terintegrasi dalam budaya Jakarta.

De woorden "lu" (jij) en "gua" (ik) zijn afgeleid van Chinese dialecten, met name Hokkien (Minnan/Fujian), die door interactie met Chinese handelaren in Batavia in Jakarta  en Indonesisch slang zijn opgenomen, in plaats van in de oorspronkelijke Betawi-taal, en worden gebruikt als informele voornaamwoorden in de tweede en eerste persoon. Oorsprong van het Woord: "Lu": Een absorptie van het Chinese karakter ä½  (nǐ), dat in het Hokkien-dialect wordt uitgesproken als lu/leu/li, wat "jij" of "jij" betekent. "Grot": Een absorptie van het Chinese karakter ꈑ (wĒ’), dat in het Hokkien-dialect wordt uitgesproken als cave/cave, wat "Ik" of "Ik" betekent. Absorptieproces: Chinese migratie: Veel Chinezen uit de Fujian (Hokkien) regio handelden en vestigden zich lange tijd in Batavia (Jakarta). Communicatieinteractie: De lokale bevolking van Jakarta heeft de aanduidingen "elu" en "grot" aangenomen om te communiceren met Chinese handelaren. Slang: In de loop der tijd werden deze woorden onderdeel van de straattaal van Jakarta en verspreidden zich later, waardoor ze een meer vertrouwde en ontspannen sfeer boden dan "jij-mij" of "jij-mij". Gebruikscontext: Het woord "lu-gua" komt heel vaak voor in informele gesprekken onder jongeren en stadsbewoners. Hoewel populair, is het gebruik ervan onbeleefd om met oudere mensen of in formele situaties te communiceren. Dus, hoewel het vaak wordt geassocieerd met de Betawi-taal, is "lu-gua" eigenlijk een taalkundig erfgoed van de Hokkien-Chinese gemeenschap dat geïntegreerd is in de cultuur van Jakarta.

Acceptatie brief voor de officiele vereniging van WBI/WPSI .

Surat Penerimaan untuk Asosiasi Resmi WBI/WPSI.

Sanggul

De WBI Belanda , ingehuldigd via videocall op de datum 19 juli 2024, te Valkenswaard door hr Cak Ries Handono en zijn vrouw mevr Sami Rahayu.

De geschiedenis van de WBI Belanda , had toen de naam PBN ( Perempuan Bersanggul Indonesia) ibu ketua woonachtig te Rotterdam, in het jaar 2022 op gegeven moment konden ze niet meer verder , het bleek dat  deze komunitas nog bestaat, maar dan ergens anders,
Na twee jaar te hebben gewacht ( mijn manFred Bakkenist en mijn vrouw Isje Dalijati hielden kontakten met dhr CakRies en Mw Sami Rahayu) en uiteindelijk werden wij ingehuldigd.

WBI Belanda, diresmikan melalui video call pada tanggal 19 Juli 2024, di Valkenswaard oleh Bapak Cak Ries Handono dan istrinya Ibu Sami Rahayu. Sejarah WBI Belanda, kemudian memiliki nama PBN (Perempuan Bersanggul Indonesia) ibu ketua yang tinggal di Rotterdam, pada tahun 2022 di beberapa titik mereka tidak bisa lagi melanjutkan, ternyata komunitas ini masih ada, tetapi di tempat lain,Setelah menunggu selama dua tahun (suami saya Fred Bakkenist dan istri saya Isje Dalijati tetap berhubungan dengan Pak CakRies dan Ibu Sami Rahayu) dan akhirnya kami dilantik.

Mw Dini Andini, voormalig voorzitter van WBI/WPSI Jabodetabek vanaf het jaar 2022 tot 2023. (Foto links)

Ibu Dini Andini ketua umum WBI/WPSI Jabodetabek dari tahun 2022 - 2023 (Foto kiri)

Mw.Ignatia Titi Haeni voormalig voorzitter van WBI/WPSI Jabodetabek vanaf het jaar 2023 tot 2025. (Foto rechts)

Ibu .Ignatia Titi Haeni ketua umum WBI/WPSI Jabodetabek dari tahun 2023-2025 (Foto kanan)

Gedung Maybank di Kota Lama Surabaya adalah bangunan bersejarah yang dibangun tahun 1914, awalnya bernama Nederlands Spaarbank (Bank Tabungan), dirancang oleh arsitek Belanda Fritz Joseph Pinedo, berfungsi sebagai bank tabungan umum satu2nya di Surabaya pada masa kolonial sejak th 1916, lalu ditetapkan sebagai Cagar Budaya oleh Pemkot tahun 1998, dan kini mengintegrasikan fasilitas perbankan modern dalam bangunan bersejarahnya yang terletak di sudut Jalan Jembatan Merah dan Jalan Sikatan, dekat kantor polisi Belanda (sekarang Polrestabes Surabaya).

Meskipun bangunannya klasik, Maybank kini mengintegrasikan layanan digital modern di dalamnya yang menjadikannya unik.

Memiliki gaya arsitektur yang khas dengan pintu masuk menjulang dan bentuk bangunan melengkung mengikuti jalan.

Kondisi sekarang Terawat dengan baik dan menjadi ikon kawasan Kota Lama Surabaya.

Het Maybank-gebouw in de oude stad van Surabaya is een historisch gebouw gebouwd in 1914, oorspronkelijk Nederlands Spaarbank (Spaarbank), ontworpen door de Nederlandse architect Fritz Joseph Pinedo, functioneerde sinds 1916 als de enige openbare spaarbank in Surabaya tijdens de koloniale periode, werd in 1998 door de stadsregering aangewezen als cultureel erfgoed, en integreert nu moderne bankfaciliteiten in het historische gebouw op de hoek van Jalan Jembatan Merah en Jalan Sikatan. nabij het Nederlandse politiebureau (nu de politie van Surabaya). Hoewel het gebouw klassiek is, integreert Maybank nu moderne digitale diensten, wat het uniek maakt. Het heeft een kenmerkende architectonische stijl met een torenhoge ingang en een gebogen gebouwvorm die langs de straat loopt. De huidige staat is goed onderhouden en is een icoon geworden van het oude stadsdeel van Surabaya.

Rondje Old Town Surabaya. PTPN Regional 5 gebouw in Surabaya is een historisch relikwie van klassieke Europese architectuur dat ooit het hoofdkantoor was van plantage uit het koloniale tijdperk dat een stille getuige was van de glorie van de Nederlandse Indiase suikerindustrie. Het gebouw werd in de Nederlandse koloniale tijd gebouwd om een uitgestrekte suikerplantage in Oost-Java te beheren. Het gebouw werd een prachtig administratief centrum. Dit gebouw heeft een prachtige Europese klassieke architectuur en is een kenmerk dat symbool staat voor de geschiedenis van de suikerindustrie en de economische ontwikkeling van Indonesië. Nu fungeert het als hoofdkantoor van PTPN I Regional 5 dat plantageoperaties in Oost-Java beheert.

#KeluargaPecintaBudayaNusantara #WanitaBersanggulIndinesia #WanitaPelestariSanggulIndonesia #WisataKotaLamaSurabaya

Tur Kota Tua Surabaya. Gedung PTPN Regional 5 di Surabaya merupakan peninggalan sejarah arsitektur klasik Eropa yang pernah menjadi markas perkebunan era kolonial yang menjadi saksi bisu kejayaan industri gula India Belanda. Bangunan ini dibangun pada zaman kolonial Belanda untuk mengelola perkebunan gula yang luas di Jawa Timur. Bangunan itu menjadi pusat administrasi yang indah. Bangunan ini memiliki arsitektur klasik Eropa yang indah dan merupakan fitur yang melambangkan sejarah industri gula dan perkembangan ekonomi Indonesia. Sekarang berfungsi sebagai markas PTPN I Regional 5 yang mengelola operasi perkebunan di Jawa Timur.

Ik ben  Fred Willem Tom Bakkenist geboren in het jaar 1953 te Amsterdam, zoon van Willem Tom Bakkenist geboren in Surabaya in het jaar 1922, kleinzoon van Willem Bakkenist, geboren te Purmerend 1895. Mijn opa vertrok uit Nederland in het jaar 1920 naar Surabaya als wijnhandelaar. In  het jaar 1922 werd het Badhotel Tretes door hem gebouwd.

In het jaar 1960 keerde mijn opa terug naar Nederland met de boot, en is in dat jaar gestorven in Den Haag Nederland.

Ik ben betrokken met WBI/WPSI door mijn tweede vrouw (heeft 2 kinderen van haar eerste huwelijk),  mijn eerste vrouw is in 2007 overleden waarvan  ik 1 zoon heb gekregen. We hebben nu samen 6 klein kinderen. 

Saya Fred Willem Tom Bakkenist lahir pada tahun 1953 di Amsterdam, putra Willem Tom Bakkenist lahir di Surabaya pada tahun 1922, cucu dari Willem Bakkenist, lahir di Purmerend 1895. Kakek saya meninggalkan Belanda pada tahun 1920 ke Surabaya sebagai pedagang anggur. Pada tahun 1922 Badhotel Tretes dibangun olehnya. Pada tahun 1960 kakek saya kembali ke Belanda dengan perahu, dan meninggal di Den Haag pada tahun itu. Saya terlibat dengan WBI/WPSI melalui istri kedua saya (memiliki 2 anak dari pernikahan pertamanya), istri pertama saya meninggal pada tahun 2007 di mana saya memiliki 1 putra. Kami sekarang memiliki 6 cucu bersama.

Inna Tretes hotel pada saatt ini

Inna Tretes, zoals het nu is.

Wisata Kota Lama.

Gereja Kepanjen adalah gereja Katolik tertua di Surabaya, berawal dari pendeta Belanda tahun 1810 yang memiliki bangunan pertama di Jl. Cendrawasih (1822) yang kemudian pindah ke Jl. Kepanjen 5 Agustus 1900 karena rusak dan tidak menampung jemaat.

Gereja ini dibangun dengan arsitektur Eropa, menjadi saksi sejarah pertempuran 1945 (sempat terbakar dan direnovasi), dan ditetapkan oleh Pemkot sebagai bangunan cagar budaya pada tahun 1998. Gereja ini masih berdiri megah dengan sentuhan arsitektur aslinya yang dirancang oleh arsitek W. Westmaas (Belanda) dengan menggunakan tembok bata merah Eropa, pilar tinggi, dan kaca mozaik berwarna-warni, serta berbentuk salib dari atas.

Selama pertempuran 10 November 1945, gereja ini menjadi tempat pengungsian dan mengalami kerusakan parah akibat bom/kebakaran, hanya temboknya saja yang tersisa.

Pada th 1949-1950 baru direnovasi kembali.

Oude Stad Tour. De Kepanjen-kerk is de oudste katholieke kerk in Surabaya, beginnend met een Nederlandse predikant in 1810 die het eerste gebouw aan Jl. Cendrawasih (1822) had, dat vervolgens op 5 augustus 1900 naar Jl. Kepanjen verhuisde omdat het beschadigd was en geen ruimte bood aan de gemeente. Deze kerk is gebouwd in Europese architectuur, was getuige van de geschiedenis van de slag van 1945 (ze werd afgebrand en gerenoveerd), en werd in 1998 door de stadsregering aangewezen als cultureel erfgoedgebouw. De kerk staat nog steeds majestueus met haar oorspronkelijke architectonische accenten, ontworpen door architect W. Westmaas (Nederland), met Europese rode bakstenen muren, hoge pilaren en kleurrijk mozaïekglas, evenals een kruis van boven. Tijdens de slag van 10 november 1945 werd de kerk een vluchtelingenkamp en werd zwaar beschadigd door bommen en branden, alleen de muren bleven over. In 1949-1950 werd het opnieuw gerenoveerd.

Pabrik Limoen (Limun) J.C. van Drongelen & Hellfach, pabrik sirup pertama di Indonesia yang didirikan di Surabaya th1923 oleh pengusaha Belanda J.C. van Drongelen.

Istilah "lemon drongelen" tidak merujuk pada varietas lemon tertentu, melainkan nama perusahaan yang memproduksi minuman limun.

Nama "Limoen" (limun) merujuk pada minuman ringan yang terbuat dari air, gula, dan perasan lemon atau jeruk nipis.

Awalnya, pabrik ini melayani kalangan menengah ke atas dan tamu kehormatan Belanda dengan produk limun dan sirup yang berkualitas tinggi.

Seiring berjalannya waktu, pabrik ini bertransformasi dan kini lebih dikenal sebagai Pabrik Siropen Telasih, yang masih memproduksi sirup dengan berbagai rasa.

Bangunan pabrik ini masih berdiri kokoh di Surabaya dan diakui sebagai salah satu cagar budaya yang mencerminkan warisan industri era kolonial Belanda.

Pabrik ini menjadi bagian penting dari sejarah industri dan kuliner Surabaya, dan warisan "Drongelen" tetap hidup melalui merek Siropen Telasih, buah tangan khas Surabaya yang melegenda.

J.C. van Drongelen & Hellfach Limoen (Limun) Fabriek, de eerste siroopfabriek in Indonesië, opgericht in Surabaya in 1923 door de Nederlandse zakenman J.C. van Drongelen. De term "lemon drongelen" verwijst niet naar een specifieke citroenvariëteit, maar naar de naam van het bedrijf dat de limonadedrank produceert. De naam "Limoen" (limonade) verwijst naar frisdranken gemaakt van water, suiker en citroen- of limoensap. Aanvankelijk bediende de fabriek de hogere middenklasse en eregasten van Nederland met hoogwaardige limonade- en siroopproducten. In de loop der tijd transformeerde deze fabriek en staat nu beter bekend als Telasih Syrup Factory, die nog steeds siroop met verschillende smaken produceert. Dit fabrieksgebouw staat nog steeds stevig in Surabaya en wordt erkend als een van de culturele erfgoeden die het industriële erfgoed van de Nederlandse koloniale tijd weerspiegelen. De fabriek is een belangrijk onderdeel van de industriële en culinaire geschiedenis van Surabaya, en de erfenis van "Drongelen" leeft voort via het merk Siropen Telasih, een legendarisch souvenir van Surabaya.

Jembatan Merah.

Jembatan Merah adalah sebuah jembatan bersejarah yang terletak di pusat kota Surabaya yang menjadi saksi bisu dari berbagai peristiwa penting dalam sejarah Indonesia terutama pada masa perjuangan kemerdekaan.

Jembatan Merah menjadi simbol perjuangan dan sering dikaitkan dengan Pertempuran Surabaya yang berlangsung pada 10 Nopember 1945, yang merupakan salah satu pertempuran besar dalam Revolusi Nasional Indonesia.

Jembatan ini melintasi Kali Mas Surabaya yang diresmikan pada tanggal 11 November 1743 oleh pemerintah kolonial Belanda yang menjadikan kawasan sekitar jembatan ini sebagai pusat perdagangan penting di Surabaya Pada masa perjuangan kemerdekaan.

Rode Brug. De Rode Brug is een historische brug in het centrum van Surabaya die een stille getuige is van verschillende belangrijke gebeurtenissen in de Indonesische geschiedenis, vooral tijdens de onafhankelijkheidsstrijd. De Rode Brug werd een symbool van strijd en wordt vaak geassocieerd met de Slag bij Surabaya die plaatsvond op 10 november 1945, een van de belangrijkste veldslagen in de Indonesische Nationale Revolutie. Deze brug oversteekt de Mas-rivier van Surabaya, die op 11 november 1743 werd ingehuldigd door de Nederlandse koloniale overheid, waardoor het gebied rond deze brug een belangrijk handelscentrum in Surabaya werd tijdens de onafhankelijkheidsstrijd.

Jika anda berada di Surabaya, jangan lewatkan untuk mampir di tempat favorit saya Kota Lama Surabaya yang memiliki sejarah panjang dengan banyak bangunan bersejarah yang dibangun sekitar tahun 1870-an hingga 1940-an dengan arsitektur khas Eropa.

Kawasan ini bahkan dijuluki Little Nederland karena kanal-kanalnya mirip dengan kota-kota di Belanda.

Saat ini, Kota Lama Surabaya menjadi area wisata sejarah yang menawarkan pesona bangunan-bangunan lawas berarsitektur kolonial, serta menunjukkan bukti perpaduan budaya yang telah membentuk kota ini.

Kawasan ini juga menjadi saksi bisu berbagai pergolakan sejarah dan menjadi pusat kegiatan ekonomi di masa lampau.

Als je in Surabaya bent, moet je mijn favoriete plek, de oude stad van Surabaya, niet missen, die een lange geschiedenis heeft met veel historische gebouwen gebouwd tussen de jaren 1870 en 1940 met typische Europese architectuur. Dit gebied wordt zelfs Kleine Nederland genoemd omdat de kanalen lijken op steden in Nederland. Tegenwoordig is de oude stad van Surabaya een historisch toeristisch gebied dat de charme van oude gebouwen met koloniale architectuur biedt, en tevens bewijst van de samensmelting van culturen die deze stad hebben gevormd. Dit gebied is ook een stille getuige geweest van diverse historische omwentelingen en is in het verleden het centrum van economische activiteit geworden.

Yuliasih Susilowati,S.Pd Jakarta

Menjaga Mahkota Budaya, Merawat Identitas Bangsa.

​Bergabung dengan Wanita Pelestari Sanggul Indonesia bagi saya bukan sekadar tentang penampilan fisik atau estetika semata. Ini adalah perjalanan hati untuk kembali memeluk akar budaya yang telah diwariskan oleh leluhur kita.
​Berikut adalah alasan mengapa saya berkomitmen penuh dalam komunitas ini:
​Menghidupkan Kembali Jati Diri : Sanggul adalah simbol keanggunan dan kekuatan perempuan Indonesia. Dengan mengenakannya, saya merasa terhubung kembali dengan identitas sejati kita yang bersahaja namun penuh wibawa.
​Melawan Arus Zaman dengan Keindahan: Di tengah gempuran tren modern, saya ingin membuktikan bahwa sanggul tradisional tetap relevan dan mempesona. Berpartisipasi di komunitas ini adalah cara saya "berteriak" dengan lembut bahwa budaya kita tidak boleh hilang ditelan waktu.
​Solidaritas Perempuan Berbudaya: Komunitas ini adalah ruang di mana kami saling menguatkan. Di sini, saya bertemu dengan wanita-wanita hebat yang memiliki visi yang sama: memastikan bahwa "mahkota" khas Indonesia ini tetap tegak di atas kepala generasi mendatang.
​Edukasi dan Pelestarian: Saya ingin sejarah dan teknik bersanggul tetap dipelajari. Melalui komunitas ini, kita tidak hanya memakai sanggul, tapi juga menceritakan filosofi di baliknya kepada dunia.
​Bagi saya, setiap lilitan rambut dan sematan tusuk konde adalah doa untuk kelestarian budaya. Saya merasa terhormat dapat berdiri bersama para perempuan hebat di komunitas ini demi menjaga martabat budaya bangsa.
​"Sanggul bukan sekadar tatanan rambut; ia adalah simbol keteguhan hati dan keayuan budi pekerti perempuan Indonesia."

Nama : Yuliasih Susilowati,S.Pd
Korwil : Jakarta

Waarom ik er trots op ben om deel uit te maken van Wanita Pelestari Sanggul Indonesia
​Het bewaken van de culturele kroon, het koesteren van onze nationale identiteit
​Deelname aan de gemeenschap van Wanita Pelestari Sanggul Indonesia (Vrouwen voor het Behoud van de Indonesische Sanggul) is voor mij niet louter een kwestie van uiterlijk of esthetiek. Het is een reis van het hart om de culturele wortels te omarmen die ons door onze voorouders zijn nagelaten.
​Dit zijn de redenen waarom ik mij volledig inzet voor deze gemeenschap:
​Het herleven van onze identiteit: De sanggul (traditionele knot) is het symbool van de elegantie en kracht van de Indonesische vrouw. Door het dragen ervan voel ik mij opnieuw verbonden met onze ware identiteit: bescheiden, maar vol waardigheid.
​Tegen de stroom in met schoonheid: Ondanks de sterke invloeden van moderne trends, wil ik bewijzen dat de traditionele sanggul relevant en betoverend blijft. Mijn deelname aan deze gemeenschap is mijn manier om op een zachte wijze te laten horen dat onze cultuur niet verloren mag gaan in de tijd.
​Solidariteit tussen cultuurbewuste vrouwen: Deze gemeenschap is een plek waar we elkaar versterken. Hier ontmoet ik geweldige vrouwen met dezelfde visie: ervoor zorgen dat deze "kroon" van Indonesië ook voor de toekomstige generaties behouden blijft.
​Educatie en behoud: Ik wil dat de geschiedenis en de technieken van de sanggul onderwezen blijven worden. Via deze gemeenschap dragen we niet alleen de sanggul, maar vertellen we ook de filosofie die erachter schuilgaat aan de rest van de wereld.
​Voor mij is elke haarstreng en elke speld een gebed voor het behoud van onze cultuur. Ik voel me vereerd om zij aan zij te staan met deze krachtige vrouwen om de waardigheid van onze nationale cultuur te bewaken.
​"De sanggul is niet zomaar een kapsel; het is een symbool van standvastigheid en de verfijnde schoonheid van het karakter van de Indonesische vrouw."

Duhita Sasa Widianingsih

Sanggul Jawa memiliki makna mendalam yang terkait dengan nilai-nilai budaya, spiritualitas, dan kedewasaan.
Pokok Filosofi:
- Simbol Kesempurnaan dan Kesatuan: Bentuk sanggul yang terkumpul dan teratur melambangkan "Rukun Hidup" dan kesatuan dalam kehidupan, serta hubungan manusia dengan Tuhan, alam, dan sesama. Secara kosmologis, ia juga dianggap sebagai representasi gunung meru (tempat tinggal dewa dalam keyakinan Jawa), yang melambangkan kesucian dan ketinggian jiwa. - Tanda Kedewasaan dan Kesopanan: Menyanggul rambut menjadi ciri perempuan Jawa yang sudah memasuki usia dewasa atau telah menikah, menunjukkan rasa tanggung jawab dan penghormatan terhadap norma sosial. Ini juga mencerminkan nilai "alus" (halus, sopan) yang menjadi dasar perilaku budaya Jawa.
- Harmoni dengan Alam: Proses menyanggul rambut yang teratur dianggap sebagai cerminan dari keharmonisan alam semesta, di mana segala sesuatu memiliki tempat dan urutannya sendiri. Bahan seperti tusuk konde (dari kayu atau bambu) juga memiliki makna tentang kesederhanaan dan keterkaitan dengan alam.
- Spiritualitas: Beberapa gaya sanggul juga terkait dengan upacara keagamaan atau adat, di mana ia dianggap sebagai cara untuk membersihkan dan menyucikan diri sebelum menghadapi hal suci.

Javaanse Sanggul hebben een diepe betekenis die verband houdt met culturele waarden, spiritualiteit en volwassenheid.Filosofische punten:- Symbool van Volmaaktheid en Eenheid: De verzamelde en ordelijke vorm van de Sanggul symboliseert de "Pijlers van het Leven" en eenheid in het leven, evenals de relatie van de mens met God, de natuur en anderen. Kosmologie wordt het ook beschouwd als een representatie van de berg Meru (de verblijfplaats van de god in het Javaanse geloof), die de zuiverheid en verheffing van de ziel symboliseert.- Tekenen van volwassenheid en beleefdheid: Het kammen van haar is een kenmerk van Javaanse vrouwen die volwassen zijn geworden of getrouwd zijn, wat een gevoel van verantwoordelijkheid en respect voor sociale normen toont. Het weerspiegelt ook de waarden van "alus" (subtiel, beleefd) die de basis vormen van Javaanse culturele gedrag.- Harmonie met de natuur: Het regelmatige proces van haarafbreken wordt beschouwd als een weerspiegeling van de harmonie van het universum, waarbij alles zijn eigen plaats en orde heeft. Materialen zoals konde-spiesen (van hout of bamboe) hebben ook een betekenis van eenvoud en verbondenheid met de natuur.- Spiritualiteit: Sommige stijlen van Sanggul worden ook geassocieerd met religieuze of traditionele ceremonies, waarbij ze worden gezien als een manier om zichzelf te reinigen en te zuiveren voordat men het heilige onder ogen ziet.

Javaanse Sanggul

Mengenakan King Bibinge, warisan leluhur dari Bumi Khatulistiwa. Keindahan motif dan manik-maniknya bukan sekadar hiasan, tapi simbol kehormatan dan identitas budaya Kalimantan Barat yang tak lekang oleh waktu. Bangga menjadi bagian dari keragaman Indonesia. "

"Seperti akar yang kuat, tradisi adalah dasar kita berpijak. Dari Kalimantan Barat untuk dunia, menjaga warisan agar tetap bercahaya.

Met King Bibinge op, een voorouderlijk erfgoed van de Equatoriale Aarde. De schoonheid van de motieven en kralen is niet alleen decoratie, maar een symbool van eer en culturele identiteit van West-Kalimantan dat tijdloos is. Trots om deel uit te maken van de diversiteit van Indonesië. " "Net als sterke wortels is traditie de basis waarop wij staan. Van West-Kalimantan tot de wereld, het erfgoed blijft stralen.

Een Balinese moeder

Balinese Culturele aktiviteiten